Jumat, 04 Juni 2010

120 HARI YANG LALU...

Waktu ini, penuh lamunan. Langit cerah, tetapi hujan deras. Sepertinya langit sedang menangis. Menangis untuk mengenangmu, Buk. Hari ini genap 120 hari yang lalu aku melihatmu. Waktu terasa berlalu begitu cepat. Tak terasa usai sudah sesuatu yang kita sebut ‘hidup’. Karena ternyata waktu tak menunggu.

Rasanya seperti mimpi. Aku masih mendengar tawamu yang ceria dan melihat senyum mu yang cerah ketika kita berjalan tertatih menelusuri bilik satu ke bilik di rumah sakit itu. Aku masih mendengar suara banggamu karena tubuhmu mulai menggemuk. Masih tertawa karena leluconmu tentang badan ku yang tak kunjung gemuk.

Rasanya baru kemarin aku memeluk tubuhmu yang kecil. Baru kemarin engkau menyuruhku untuk menjaga kesehatan. Baru kemarin engkau mengucapkan kata ‘Selamat ulang tahun’. Rasanya seperti mimpi. Kini telah kau pergi. Dan tak mungkin kembali.

Banyak pertama kali yang kulakukan denganmu. Banyak yang telah kau beri dalam hidupku. Kau mengajarkan aku kekuatan, mengajarkan aku untuk tak pernah menyerah. dan memberikan aku pengertian tentang mimpi-mimpi itu.

Lucu. Karena rasanya baru kemarin engkau menampar pipiku hingga merah. Dan keluar aroma cinta dari hatiku yang lebam-lebam. Rasanya baru kemarin kau mengecup keningku, dan mengatakan betapa engkau mencintaiku.

Dan teringat ketika akhir itu mereka bertanya, ‘mengapa? Mengapa harus engkau?!’ Tapi aku tahu pasti jawabannya, karena Tuhan pasti begitu mencintai mu.

Kau mengeluh sakit, tapi kau tetap tertawa. Kau terus berjuang melawan penyakit yang melanda tubuhmu yang mungil itu. Di kala deritamu engkau masih mengingat aku. Dan kau tak lupa pada satupun keluargamu. Kau berjuang. Kau kuat. Kau tidak kalah, Ibu, kau tidak kalah pada penyakit itu. Tapi Tuhan punya rencana lain. Rencana yang tak dapat dimengerti nalar manusia, tetapi pasti yang terbaik untukmu.

Tahukah kamu, siapa yang setiap malam mendoakan engkau dan kesehatanmu? Siapa yang setiap malam menaruh secarik kertas harapan mimpi indah di balik bantalmu? Siapa yang setiap malam menenangkan engkau dari racauan-igauanmu yang nampak sangat meresahkan itu? Itu aku.

Aku melihatmu terkulai di sana, 120+7 hari yang lalu dengan nafas yang parau Semua menangis melihatmu, semua prihatin. Tapi mereka tahu kau tidak kalah melawan penyakit. Mereka tahu betapa kuatnya engkau. Mereka tahu betapa indahnya hidupmu. Mereka tahu kau tidak lagi menderita, dan betapa bahagianya dirmu Ibu, Mereka tahu hidupmu selalu dipenuhi oleh kebaikan. Jadi tak ada yang perlu disesali. dan ditangisi hanya doa-doa yang keluar dari mulut mereka

Hari itu, adalah yang terakhir kalinya aku melihatmu. Setelah sekian lama aku menunggu untuk dapat menatap dirimu. Engkau tertidur, di sana, dan wajahmu bagai tersenyum. Aku menjemputmu. Berharap kau akan melihatku kembali, setelah bertahun-tahun lamanya engkau buang pandanganmu sejauh mungkin dari seonggok hati berisi cinta padamu ini.

Di atas tandu itu wajahmu begitu damai, kau meninggalkan kita. Tapi kenangan tentangmu selalu ada. Hingga akhir jaman. Kenangan yang kau tinggalkan tak pernah sia-sia.

Maka lambaian itu datang di 120 hari yang lalu, dan saatnya untuk pergi. Permintaan terakhirku dikabulkan sudah. Dan saatnya untukmu kembali di sisinya.

Maaf, Ibu, tapi kali ini tak lagi aku menemani. Karena aku tak bisa membantumu menemanimu ke taman-taman syurga yang telah di janjikan Allah SWT. Karena tubuhku kini berat, setelah sekian lama kau beri aku dengan beribu kata-kata Cinta. Maafkan aku, Buk. Ini adalah pertama kalinya aku meninggalkanmu, melupakan arti cintaku padamu. ini tak perlu lagi ditangisi. Tak perlu lagi kami kuatir. Kau tak akan pernah mengeluh sakit lagi. Tak perlu memakan semua sayur-sayuran tanpa rasa yang selalu kau makan setiap hari.

Karena kini Tuhan menjagamu, menjadi sahabatmu, menggantikan kami. Kini engkau telah bertemu dengan pendahulu-pendahulu mu, dan bercanda bersama mereka di alam sana. saat ku sholat jenazah, aku menitikkan air mata duka. Bukan hanya duka lazimnya terhadap yang meninggal dunia, namun duka terhadap diriku sendiri yang fana. dan doaku
"Allahumma anta rabbi Laa ilaaha illa anta khalaqtani Wa anaa abduka wa anaa alaa 'ahdika Wawa'dika mastatho'tu Abuu ulaka bi ni'mati alayya wa abuu bidzanbin"
"FAGHFIRLIII FAINNAHU LAA YAGHFIRUDZDZUNUUBA ILLAA ANTA "

(Ya Allah, engkaulah Rabb ku Tiada ilah melainkan Engkau, yang telah menciptakanku Dan aku hanyalah hambaMu, yang terikat janji denganMu Kan kupenuhi janji itu semampuku Kuakui segala nikmatMu padaku, dan kuakui pula segala dosaku"
UNTUK ITU AMPUNILAH AKU ...KARENA TIADALAH YANG MAMPU MENGAMPUNI DOSA MELAINKAN ENGKAU)

sudah dan akan selalu ku titipkan doaku setiap ku bersimpuh kepada-Nya agar engkau selalu berbahagia, berada di sisi-Nya. wahai Ibuk sayang, tidurlah disisinya untuk selamanya Ibuk yang tercinta.

Ya Tuhan...titip rindu ini.....

Tidak ada komentar: